8/23/2014

Why I Love Reading Comics More Than Novels

Comic has been my favorite reading since i was in kindergarten. I grew up reading them, even until now i still always make time to the bookstore every month to buy the newest volume of series that i've been collecting or to just simply check whether there's a new book by my favorite author. I do read novels, but i'm not fond of them. Like if there's a good novel, i'd love to read it but i don't go to the bookstore often to buy new novels. Not as often as I do with comics. I prefer to have my friends lend me some or to download it from the internet for free (HA!), because you know, novel is a little too pricey comparing to comic. Of course it's worth the price, but sometimes i don't spare that much of money to be spent on books.

But I guess what makes me enjoy comic the most is that everything in comic is told to you in a more effective way. I mean, comparing to words, pictures explain things faster, and thus makes everything more efficient. Comic doesn't bore me with unnecessary details, like if it isn't important then the author will not bother drawing it. I often find my self overwhelmed by lengthy and unimportant description in a novel. They can write like 10 lines long-paragraph just to explain what the character is wearing or to describe where the conflict takes place. I was like, "really why don't you just cut to the damn chase i just want to know what happens next!". 

Or maybe the actual reason is just that i'm plain lazy. And broke. 

8/22/2014

Kejamnya Gerbong Wanita Commuter Line

Semenjak hidup menjadi seorang jobseeker, gue jadi sering naik commuter line. Terakhir gue naik kereta dari Bekasi ke Jakarta, Kereta Ekonomi masih beroperasi dan Kereta Ekonomi AC juga baru banget ada (udah lama banget ya berarti?) Makanya begitu tau sekarang udah jadi KRL Commuter Line semua, dan sistemnya udah kece banget gue cukup excited nyobain improvement yang diadakan sama PT KAI ini.

Emang ga tiap hari sih, tapi pengalaman yang cuma beberapa kali naik commuter line itu cukup memberi gue banyak cerita. Gue kalo naik selalu di gerbong wanita. Pertimbangan gue awalnya karena yang pertama jelas untuk menghindarin kejadian-kejadian creepy yang suka terjadi di gerbong umum, dan yang kedua sepenuh apapun gerbong wanita, wanginya masih lebih manusiawi dibandingkan sama gerbong umum (No offense, boys!huehe).

Tapi ternyata oh ternyata, gerbong wanita itu kejam. Kompetisi luar biasa tinggi dan probabilitas Anda untuk adu mulut sama sesama penumpang luar biasa besar. Kondisi di gerbong wanita juga biasanya lebih penuh dibanding gerbong umum. Kalo lagi di jam-jam berangkat atau pulang kantor, lo bisa tuh berdiri di gerbong dengan posisi diri miring tapi ga akan jatoh. Saking penuhnya. Trus karena isinya perempuan semua kali ya, jadi ga ada yang merasa bahwa ada pihak yang harus lebih diutamakan dari pihak lainnya. Maksudnya, kalo di gerbong umum, biasanya kan suka ada mas-mas gentle yang ngasih duduk ke ibu-ibu yang capek berdiri atau ibu-ibu gendong anak. Nah kalo di gerbong wanita: sori-sori aja, lo capek gue juga capek dan kita sama-sama cewek.

Anyway, gue mau share beberapa cerita selama gue menaiki gerbong wanita. Sebagian gue alami sendiri, sebagian lain pengalaman temen-temen gue...

Kisah 1
Suatu hari di gerbong wanita yang sangat luar biasa penuh sesak, ada seorang mba-mba yang mau turun di Stasiun X. Mba-mba ini posisi duduknya adalah di bangku yang agak jauh dari pintu kereta.
*Kereta sampai di Stasiun X*
Mba-mba (M): Eh ini udah di stasiun X ya? Duh saya mau turun nih, misi dong misi *sambil ribet sendiri*
Akan tetapi karena gerbong wanita seperti biasa selalu penuh, jadi si mba-mba ini susah lewat
M: Duh gimana nih saya mau lewat, misi ya!
Ibu-ibu 1(I1): Mba, makanya lain kali kalo mau turun tuh siap-siapnya dari stasiun sebelumnya
M: Yaaa saya kan ga tau, ini baru pertama naik kereta. Biasanya kan saya dianter sama Om
I1: *tampang nyinyir*
M: *masih ribet* Misi dong misi duuuh nanti kalo pintunya ketutup gimana?
Ibu-ibu 2: Ih ribet banget sih mba! udah lah mba ini dorong aja
Ibu-ibu lain: Iya lah udah dorong aja. Dorong, dorong!
Ibu-ibu lainnya lagi: Dorong, dorong!
.................dan dalam sekejap segerbong pun ikutan teriak "Dorong, dorong, dorong!" dengan nada nyorakin. Wanita memang mengerikan. Ralat. Ibu-ibu yang mengerikan.

Kisah 2
Di suatu pagi yang cerah, seperti biasa gerbong wanita udah penuh sesak bahkan sejak masih di Stasiun Bekasi yang notabene adalah stasiun pemberhentian paling pertama. Dari Stasiun Bekasi aja penuhnya udah kacau, kebayang kan gimana di stasiun-stasiun berikutnya.
Pas kereta mau berangkat, petugas di gerbong lokomotif harus berulang kali mengingatkan lewat speaker supaya penumpang jangan ada yang berdiri di depan pintu dan menghimbau penumpang untuk ga maksain naik kalo gerbongnya udah penuh. Soalnya kalo ada orang berdiri di deket pintu, sensor pintu akan merintahin pintu untuk tetep ngebuka, dan kalo ada satu pintu aja yang masih kebuka, kereta ga akan jalan. Pak Satpam yang bertugas di gerbong wanita sampe harus ngedorong paksa ibu-ibu ke dalam gerbong supaya pintu otomatisnya bisa ketutup. Pernah nyobain maksa masukin baju ke dalam ransel yang udah penuh?mesti diteken-teken kan supaya masuk? Nah itu kira-kira yang dilakuin sama Pak Satpam ini. Setelah beberapa kali upaya "pemampatan" dan beberapa kali peringatan via speaker, akhirnya penumpang bisa diatur sedemikian rupa sehingga pintu bisa ketutup dan kereta bisa jalan.
Selanjutnya, kereta berhenti di stasiun kedua, yaitu Stasiun Keranji.
*Pintu gerbong wanita kebuka*
Mba-mba mau masuk (M4): Misi ya bu boleh tolong geser ke dalem ga?
Ibu-ibu di pintu: *berusaha ngegeser* Aduh susah nih mba udah penuh
M4: Eh yang dalem, tolong ya geser dong. Orang kan mau masuk juga
Ibu-ibu di dalem: Udah ga bisa, kalo ga muat ga usah dipaksa dong
Mba-mba lainnya: Iya nanti pintunya malah ga bisa ketutup
M4: Yeee, kita kan sama-sama mau berangkat kerja keleus. Kenapa jadi ngatur-ngatur, emang kereta punya nenek moyang lo?! *sambil maksa masuk*
.............kemudian hening dan kereta pun jalan. Ya, si mba-mba berhasil masuk.

Kisah 3
Di suatu hari di jam-jam sibuk di gerbong wanita Commuter Line Bekasi-Kota, (Ini gue kayaknya udah ga perlu nambahin deskripsi bahwa gerbong itu penuh sesak dll ya, karna emang selalu begitu)
Mba-mba 1 (M1): *tetiba asma*
Mba-mba 2 (M2): Eh kenapa mba? asma ya? tolong dong ini ada yg asma!
Mba-mba 3 (M3): Mba bawa inhaler ga?
M1: *masih sambil asma* *geleng-geleng*
M2: Ini mba, pake inhaler saya aja. Ngerti pakenya kan?
M3: Eh yang duduk tolong dong nyadar diri, ini ada yg lg sakit
*dan yang duduk semuanya pada pura-pura ga denger atau pura-pura tidur.*
M2: Idih, amit-amit. Pura-pura tidur aja semua! Kalo anak orang pingsan gimana
M1: *masih asma*
M3: Pak satpam, tolongin dong ini pak ada yang asma
Satpam yang kondisinya tergencet di pintu sisi sebelah kiri pun ga bisa ngapa-ngapain. Karena di dalam kereta itu literally lo sulit banget buat ganti posisi berdiri, apalagi jalan untuk nyamperin tempat kejadian.
M2: Heh yang duduk, budek ya?!!
*mungkin yang duduk dalam hatinya bilang "iya mba, untuk saat ini saya lg budek. mohon maaf"*
M1: Udah, udah mba gapapa. Saya udah enakan kok. *masih megap-megap*
Akhirnya kejadian tersebut berlalu tanpa ada orang yang mau ngalah ngasih bangku untuk Mba-mba yang sakit tersebut. What's wrong with you people?

Kisah 4
Masih di scene yang sama kayak kisah 3...
Ibu-ibu sebelah gue (I): Itu satpam gimana sih, orang ada yang sakit bukannya nolongin
Mba-mba sebelahnya: Susah kali bu, satpamnya ga bisa gerak
I: Ya kalo gitu ga usah ikutan naiklah, menuh-menuhin gerbong aja. Useless amat sih!
...............................................................................................................................

Kisah 5
Di suatu hari di jam pulang kantor
*Hening* *yang duduk rata-rata tidur*
*tetiba ada botol minum jatoh dari salah satu tas yang ada di tempat penyimpanan tas di atas tempat duduk*
*botolnya menimpa kepala ibu-ibu yang lagi tidur*
Ibu-ibu: Aduh! Botol siapa nih?!!
Mba-mba yang punya botol (M1): *pura-pura ga liat* *ga mau ngaku*
I: Gimana sih nih naro kok di atas, kan jadi jatoh. Emangnya ga sakit apa, bla bla bla (ngedumel)
Mba-mba iseng nanggepin si ibu-ibu (M2): Ya mau gimana lagi bu, namanya juga di kereta, goyang-goyang.
I: Yaiya makanya saya bilang jangan ditaro di atas!! udah tau goyang-goyang..
M2: Ya kan capek bu ditenteng-tenteng, Ibu mah enak dapet duduk
I: Kok jadi sewot sih mba, emang ini punya mba??
M2: Ngga, bukan punya saya
*Bla bla bla. Perdebatan berlanjut sampe pada capek sendiri*
M1: *tetap kalem dan diem-diem ngambil botol minumnya yang jatoh*
Well, I'll do the same if i were her.

Begitulah kira-kira beberapa penggal cerita pengalaman naik commuter line gerbong wanita. Walaupun begitu, sampe detik ini kalo gue harus naik kereta sendirian, gue tetep memilih buat naik gerbong wanita. And if there's something i can learn from my previous experiences: You don't mess with Ibu-ibu. Just don't.

8/20/2014

These things end...

"These things end," she said. "They always end. Nobody marries their first love. First love is just that. First. It's implied that something else will follow"
- Attachment by Rainbow Rowell